Football betting app download_Baccarat Banker_Formal Baccarat_Brazil Gaming_365 Score Network

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Aturan main judi

OrGambling appanGambling appg yang takut tGambling appGambling appErtinggal informasi atau tren jelas bakal ‘lengket’ dengan sumbernya, dalam hal ini ponsel atau media sosial. Beberapa tandanya adalah mereka akan meletakkan ponsel di dekatnya ketika tidur, cemas saat baterai ponsel tinggal sedikit, dan selalu mengecek ponsel setiap menit. Ini karena akan muncul kekhawatiran atau bahkan perasaan bersalah jika mereka sebentar saja ‘absen’ dari dunia maya. Kalau kamu sudah termasuk dalam ciri ini, kamu patut waspada sih, karena itu artinya kesehatan mentalmu sudah terganggu.

Sebenarnya kepo sendiri wajar dilakukan karena manusia memang punya dasar sifat penasaran. Tapi dengan catatan dilakukan dalam kadar sedang. Nah kalau sudah jadi kebiasaan sampai membuat ketergantungan, justru akan menimbulkan bahaya. Terlebih kalau yang dikepo adalah kehidupan orang lain. Selain bisa memupuk rasa iri, kepo juga menandakan orang tersebut sebenarnya tidak bahagia, selalu cemas, karena tak pernah berhenti membandingkan kehidupannya dengan orang lain.

Ya, kepo sebenarnya adalah singkatan dari Knowing Every Particular Object, yang artinya mengetahui setiap detail objek. Dalam hal ini segala informasi di dunia maya atau media sosial. Karena orang dengan sindrom Fomo memiliki ketakutan tertinggal informasi, salah satu yang pasti mereka lakukan adalah kepo.

Biasanya pengidap Fomo ini tidak sadar kalau dirinya sudah terjangkit. Memang sih, secara kasat mata dampak dari Fomo ini kurang tampak. Tapi kalau ditelaah lebih lanjut, orang dengan sindrom ini bisa kecanduan media sosial yang berpengaruh ke kondisi psikologisnya lho. Nah, Hipwee News & Feature sudah merangkum 4 hal yang bisa dipahami sebagai ciri-ciri orang dengan sindrom Fomo. Simak yuk, siapa tahu kamu salah satunya!

KEPO: Knowing Every Particular Object

Studi itu juga menemukan bahwa notifikasi like, comment, love, dan lainnya pada orang yang candu media sosial, mampu mengaktifkan bagian otak yang berkaitan dengan perasaan senang karena penghargaan. Tak heran jika love, like, comment, dll bisa membuat orang terobsesi. Hal ini juga dipengaruhi mayoritas persepsi pengguna media sosial yang menganggap salah satu tolak ukur orang bisa ‘dianggap’ di sana adalah dari banyaknya love, like, comment, dll tadi.

Nggak bisa dipungkiri kalau dunia media sosial bisa mengubah banyak hal, baik positif ataupun negatif, sadar ataupun tidak. Salah satu sisi negatif dan kebanyakan nggak disadari para pengguna media sosial adalah sindrom FOMO (Fear Of Missing Out) atau ketakutan akan ketertinggalan informasi. Anita Sanz, seorang psikolog klinis, mengatakan Fomo ini dipicu oleh media sosial. Keberagaman dan kecepatan informasi yang dibawa media sosial mampu membuat orang merasa takut, khawatir, gelisah, kalau dia sampai kurang mengikuti perkembangan zaman.

FOMO: Fear Of Missing Out

Caranya? Banyak yang memilih untuk berhutang atau bahkan berbohong. Kondisi ini sesuai survei dari LearnVest, perusahaan perencanaan keuangan AS, yang menyatakan lebih dari 56% generasi millennial mengakui alasan mereka memasang foto sedang makan atau mengunjungi tempat yang lebih mahal di media sosial, untuk membuat mereka tampak lebih diminati dan menciptakan kecemburuan sosial.

Nah, jelas disini bahwa yang mereka butuhkan hanyalah pencitraan. Alasannya ya karena ketakutan untuk ‘tertinggal’ tadi. Ini erat kaitannya dengan istilah social climber. Para social climber ini kerap menggunakan segala cara supaya bisa diterima oleh orang-orang yang memiliki status sosial lebih tinggi dan nggak ragu-ragu meski harus bohong. Miris ‘kan