Gambling Handicap_Recommended betting platform_Basic Baccarat Play_How to play gambling

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Aturan main judi
burned out“, sudah saatnya mengambil cuti. Biasanya setelah sejenak melepaskan diri dari pekerjaan dan menikmati liburan, pikiran yang suntuk bisa lebih fresh. Dengan begitu semangatmu bekerja akan kembali lagi. Tapi bila cuti pun tak mempan untuk mengobati rasa lelahmu, mungkin kamu memang sudah benar-benar tak tahan. Percuma sering-sering ambil cuti. Yang kamu butuhkan adalah surat pengunduran diri.

visi masa depan tak sejalan dengan tujuan perusahaan

Setiap hari pulang ke rumah dengan rasa luluh lantak. Tak jelas yang lelah apakah fisiknya ataukah justru jiwanya. Setiap pagi tiba, kamu harus bersusah payah untuk mengangkat badan berangkat kerja. Di kantor pun tak merasa tenang. Sedikit-sedikit menatap jam, berharap waktu pulang datang. Bosan, malas, dan jenuh adalah hal yang biasa. Tapi bila terjadi setiap hari, kamu harus mulai pikir-pikir lagi. Motivasi jelas perlu untuk membuat segalanya berjalan dengan benar. Bila kamu telah kehilangan hal itu, jalan keluar baru harus dipikirkan.

Menyelaraskan tujuan perusahaan dengan rencana personalmu tentu perlu. Dengan begitu, setiap pekerjaan kamu lakukan dengan semangat dan senang hati. Bila sejak awal tujuannya berbeda, tentu ada rasa tak nyaman saat bekerja. Entah itu bertentangan dengan cita-citamu, ataupun dengan prinsip-prinsip yang kamu miliki. Bila tujuanmu dan perusahaan tak lagi bisa disatukan, lebih baik direlakan. Daripada tetap bertahan dan terus-terusan memendam frustrasi.

Ada tiga hal yang biasanya membuat seseorang bertahan di pekerjaannya sekarang: gaji, jabatan, dan lingkungan. Tanpa gaji yang besar, berada di antara orang-orang yang sefrekuensi dan saling dukung untuk sama-sama berkembang tentu tak kalah berharganya. Pimpinan yang bisa mengajari banyak hal dan bisa dijadikan suri tauladan barangkali lebih berharga daripada jabatan yang wow dan mentereng. Tapi bila itu semua tidak kamu dapatkan, apakah masih ada alasan untuk bertahan?

Terutama kamu yang bekerja di perusahaan startup, satu lagi kekhawatiran yang harus kamu emban. Bahwa perusahaan yang belum stabil ini bisa tumbang kapan saja. Sekali waktu, kamu pasti pernah memikirkan adakah masa depan untukmu di sini? Bila menghadapi situasi yang demikian, tanyakan pada keyakinanmu sendiri. Bila kamu sudah tidak yakin dengan kantormu, maka lepaskan saja. Keyakinan itu bisa saja salah. Tapi daripada kamu menjalani hari-hari penuh kegamangan sehingga kerja tidak maksimal?

Kenyataannya, dunia kerja memang tak seindah yang terjadi di film-film Hollywood atau FTV. Apa yang kita bayangkan saat masih mahasiswa dulu bisa sangat njomplang dengan kenyataan. Banyak hal yang membuat frustrasi, mulai dari gaji yang tak naik-naik, sampai lingkungan kerja yang tak mendukung perkembangan diri. Rasa sesak, lelah, jenuh, bosan, membuatmu merasa sangat muak terutama menghadapi Senin pagi. Tapi cuti pun sudah bukan solusi. Seharusnya kamu fresh dan siap bekerja setelah liburan yang seru. Nyatanya, semuanya masih sama membuat jemu.

kesempatan tak datang dua kali

seberapa besar keyakinanmu pada perusahaan?

Sudah sering dibahas oleh artikel-artikel karier, tapi tetap saja work-life balance masih sering dilupakan. Pergi pagi pulang petang. Lembur nyaris setiap hari, bahkan sampai akhir pekan. Waktu istirahat sangat jauh dari kata layak. Jangankan bersenang-senang, untuk bertemu keluarga saja susah. Kerja keras cari uang untuk makan, nyatanya malah sering tak punya waktu untuk makan. Kewajiban memang harus dikerjakan, tapi bukan berarti hidup harus digadaikan. Bila kamu selalu keteteran, tentu ada yang harus dipertanyakan. Apakah cara kerjamu salah atau memang bebanmu terlalu besar?

Saat kesempatan untuk mengejar passion datang, terkadang kamu masih saja bimbang. Wajar, karena dengan meninggalkan apa yang kamu miliki sekarang, kamu harus memulai segalanya dari nol lagi. Bisa saja penghasilanmu akan berkurang. Jabatanmu juga tak sementereng sekarang. Tapi bila itu sudah kamu idam-idamkan sejak dulu, dan kini ada kesempatan, kenapa harus ditolak? Kesempatan barangkali tak datang dua kali. Segalanya tergantung pada keputusanmu sendiri.

Tapi untuk resign pun perlu dipikirkan masak-masak. Kamu harus mencari pekerjaan lagi, beradaptasi dengan lingkungan baru lagi, dan memulai semuanya dari awal lagi. Mungkin itulah kenapa banyak orang memilih untuk tetap bertahan, meskipun setiap hari dijalani dengan penuh siksaan. Pertanyaannya adalah: mau sampai kapan? Jangan menghalangi diri sendiri. Bila tanda-tanda ini sudah terjadi, saatnya memikirkan untuk pergi.

“Zaman sekarang cari kerja itu susah, jadi nggak usah pilih-pilih deh”, barangkali kalimat itu sering kamu dengar. Cari kerja memang susah, tapi memilih itu tetap perlu. Bukan hanya demi kenyamanan dan kesehatan mentalmu, mungkin dengan begitu kamu bisa mengerahkan performa maksimalmu. Pekerjaan yang baik tentu yang bisa menjadikanmu versi terbaik dari dirimu bukan?

lingkuan kerja yang tidak sehat

Sudah bertahun-tahun bekerja, gaji masih tak jauh berbeda. Jabatan pun masih sama. Ilmu pun masih segitu-segitu saja. Apa yang salah? Saat kamu masih fresh-graduated yang haus akan pengalaman kerja, gaji bukanlah masalah utama. Berapapun gajinya tak masalah, yang penting kerja dulu saja. Toh nanti gaji akan meningkat seiring dengan bertambahnya pengalaman. Tapi bila sekian lama kamu masih di posisi yang sama, evaluasi tentu perlu dilakukan. Entah kinerjamu yang memang sekadarnya, atau memang tempatmu yang memang kurang menjanjikan.