Football betting rebate_Baccarat account opening_Online casino ranking

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Aturan main judi

MemiIndonesiIndonesian board gamesan board gamesliIndonesian board gameski mimik muka dengan seIndonesian board gamestelan default yang kalem (atau beberapa bilang seram) selalu memunculkan kesan bahwa saya adalah sosok pendiam. Ya meskipun nggak 100% salah sih. Tapi ungkapan itu akan kemudian dilanjutkan “Apah???? Kamu pernah jadi penyiar?” sambil melotot ala adegan di sinetron-sinetron. Saya ini memang aneh, kadang berhadapan dengan segerombolan orang bikin saya deg-degan, tapi berhadapan dengan ribuan yang lainnya saya biasa saja. Setelah banyak membaca ternyata saya ini termasuk golongan ambivert. Mirip-mirip dengan amfibi, bisa hidup di air dan di darat. Kalau saya sih di darat dan di udara. Nggak melulu menguntungkan tapi nggak melulu rugi juga kok.

“Rum, kok cemberut sih? Senyum dong”

Memiliki kualitas yang juga dimiliki baik introvert dan ekstrovert sesungguhnya bisa menjadi senjata ampuh bagi kita untuk berjaya.  Buktinya saya yang sering dibilang pendiam justru bikin orang-orang terdiam karena mendengar saya siaran atau justru sekali dua kali melayangkan pujian. Wow riya’. Di sisi lain, saya juga suka menulis, karena dengan menulis saya bisa banyak berbagi melalui tulisan yang nggak perlu saya keluarkan bersama energi yang sangat banyak terbuang saat saya berbicara.

Surprisingly, justru ini nggak masalah. Meskipun memang pemalu, saya menjadi MC juga lo beberapa kali. Yang dihadapi? Bisa ratusan sampai ribuan orang. Tapi, saya bisa seketika mati gaya saat harus menghadapi puluhan orang saja. Mungkin karena intensitasnya beda. Tapi, setelah saya amati bisa juga alasannya karena saya percaya dulu sama diri sendiri, akhirnya kepercayaan diri naik ditambah adanya briefing yang detail.

Menjadi penulis nggak harus jadi introvert, ekstrovert atau ambivert, Gengs. Menjadi penulis hanya perlu menulis karena #SemuaBisaJadiPenulis

Cara menghadapi orang baru bagi orang-orang dengan kepribadian tertentu juga berbeda. Mungkin sedikit lebih susah bagi introvert karena dasarnya yang nggak suka bertemu orang atau justru perkara kecil bagi ekstrovert karena hal tersebut justru menyenangkan. Bagi ambivert, hal ini susah susah gampang untuk dilakukan. Saya bisa saja bertemu orang baru di tempat baru dan salah tingkah atau bahasa Jakselnya socially awkward, tapi bisa lancar jaya berbicara ngalor ngidul dengan orang yang akan saya wawancara saat masih di radio. Hmm bingung kan?

Jika introver berarti lebih suka menyendiri dan tertutup, ekstrover justru sebaliknya. Orang dengan kepribadian ini cenderung menyukai keributan kayak warganet keramaian. Nah, ambivert ini berada di tengah-tengahnya. Saya bisa menikmati keramaian seperti mendatangi konser, pergi jalan-jalan bersama teman-teman, atau datang ke kampanye caleg biar dapat kaus partai gratisan. Tapi, ada kalanya energi saya habis dan hanya ingin di kamar scroll-scroll linimasa Twitter atau Instagram, ya ujung-ujungnya menyaksikan keributan juga sih.

Eits! Kok marah?

“Rum kok diem aja sih?”

Pernah jadi penyiar radio?